brand_logo
Perayaan Tahun Baru dalam Islam: Bolehkah atau Tidak?
BeramalBersama
31-Dec-2025
Khasanah Islam

Perayaan Tahun Baru dalam Islam: Bolehkah atau Tidak?

Setiap akhir tahun, pertanyaan ini selalu muncul

“Kenapa sih Islam nggak ngerayain tahun baru?”

Padahal kelihatannya cuma kumpul, bakar-bakar, atau lihat kembang api bareng teman dan keluarga.

Pertanyaan ini wajar. Apalagi di tengah budaya yang sudah menganggap malam tahun baru sebagai momen besar untuk dirayakan. Tapi dalam Islam, ternyata ada cara pandang yang berbeda.

 

Kenapa Islam Tidak Menganjurkan Perayaan Tahun Baru?

Dalam Islam, konsep perayaan atau hari raya punya makna yang sangat khusus. Rasulullah ﷺ bersabda “Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Dawud)

Hadis ini menjadi dasar kenapa Islam melarang umatnya menyerupai perayaan yang bersumber dari tradisi atau keyakinan lain, termasuk menjadikan malam tahun baru sebagai hari raya. Artinya, yang dilarang bukan soal tanggal 31 Desember atau pergantian angka tahun, tapi menjadikannya sebagai perayaan khusus dengan ritual, simbol, dan euforia layaknya hari raya.

Dalam Islam sendiri, hari raya sudah jelas dan terbatas, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha seperti yang disampaikan oleh Nabi ﷺ bahwa Allah mengganti hari-hari perayaan yang dulu dengan dua hari raya itu. (HR. Abu Dawud no. 1134; juga diriwayatkan an-Nasa’i). Ada juga hadis: “Setiap kaum punya ‘id, dan ini ‘id kita.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Di luar itu, Islam tidak mengenal perayaan tahunan lain yang bersifat ibadah atau ritual khusus.

 

Apakah Islam Melarang Kumpul di Malam Tahun Baru?

Jawabannya tidak selalu. Islam tidak melarang umatnya untuk:

  • Berkumpul dengan keluarga atau teman
  • Bersilaturahmi
  • Makan bersama
  • Berdiskusi atau berbagi cerita

Selama niat dan caranya baik, serta tidak mengandung hal yang dilarang syariat (maksiat, hura-hura berlebihan, atau keyakinan tertentu), maka aktivitas tersebut tetap diperbolehkan.

 

Bahkan, Islam justru sangat menganjurkan hal-hal seperti:

  • Muhasabah (evaluasi diri)
  • Introspeksi atas amal selama setahun
  • Memperbaiki niat dan tujuan hidup
  • Memperkuat hubungan sesama manusia
  • Mengganti Perayaan dengan Makna

Alih-alih merayakan tahun baru dengan pesta dan hura-hura, Islam mengajak umatnya untuk menjadikan momen pergantian waktu sebagai titik refleksi.

Beberapa contoh aktivitas positif yang bisa dilakukan:

  • Muhasabah pribadi atau bersama keluarga
  • Doa dan dzikir
  • Menulis target perbaikan diri (bukan sekadar resolusi duniawi)
  • Menghabiskan waktu dengan orang terdekat
  • Berbagi dan bersedekah

Dengan begitu, malam tahun baru tidak menjadi kosong makna, tapi justru penuh nilai.

Larangan dalam Islam bukan hadir untuk membatasi kebahagiaan, melainkan menjaga arah hidup umatnya. Islam tidak melarang kita untuk bahagia, berkumpul, atau berharap akan hari esok yang lebih baik. Yang Islam jaga adalah agar kita

  • Tidak kehilangan identitas
  • Tidak ikut arus tanpa makna
  • Tidak mengubah tradisi menjadi keyakinan

Maka, malam tahun baru bisa tetap kita lewati dengan tenang bukan sebagai hari raya, tapi sebagai momen untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik dari tahun sebelumnya.

 

Bagikan Artikel:

beranda beranda Beranda chat chat Infaq+ donasi donasi Sedekah kontak kontak Live Salur donasi rutin donasi rutin Akun